Fadaelo. Judul travel video garapan Giri Prasetyo saat kami tim @KeluaRumah mengunjungi Taman Nasional Komodo dan Kabupaten Manggarai Barat di akhir bulan Oktober 2011. Selamat menikmati cuplikan petualangan bersama kami :)
Fadaelo, vimeo.com/32658805
@gilangtamma
Pagi itu saya terbangun dengan mata yang sepet ga karuan. Ternyata tidur di kapal yang satu ini sangat nyaman. Kaptennya sudah hapal mati seluk beluk perairan disana sehingga tau harus bermalam dimana, di perairan yang tenang. Rasanya seperti ingin lebih lama menikmati empuknya kasur di kamar. Tapi saya sempat dibuat berpikir dalam kondisi setengah sadar, berpikir ini kan bukan di kamar kost. Saya sedang tidur di kapal yang dari kemarin sore berlayar dan diluar sana pasti ada lautan. Ya, lautan. Pemandangan lautan di pagi hari kan sangat indah. Kenapa harus melanjutkan tidur? Jadi kenapa nggak segera… Bangun! Bangun bersamaan dengan membukanya seperempat mata, dicicil 2 kali hingga terbuka ¾ bagian. Sambil berjalan menaiki tangga kapal sambil mengumpulkan pundi-pundi nyawa yang bertebaran dibawa lelap semalam. Tampak sudah sesuatu yang tidak biasa. Pagi ini berbeda dari pagi biasanya, saya melihat pemandangan teluk yang tenang dengan bukit berjajar hingga mengecil diujung kanannya. Refleksi barisan bukit itu tampak jelas seperti menyatu diatas teluk yang tenang. Bisa dibilang ini terlalu sempurna untuk sebuah pagi.
Kapal sudah merapat di pelabuhan kecil Loh Buaya, pulau Rinca. Kira-kira seperti itulah suasana pagi yang indah di salah satu sudut pulau Rinca. Saya tambahkan sedikit, disekitar dermaga kecil Loh Buaya terdapat hutan bakau dan pagi itu banyak kera yang turun ke sekitar pohon bakau untuk mencari makan. Tujuh orang Teman diantara kami yang bersepuluh sudah lebih dulu turun ke dermaga dan saya masih sibuk siapin kamera, tas, sandal, dan topi. Ga lupa sebelumnya ke kamar kecil buat membuang air yang juga kecil. Mungkin pelampiasan perasaan grogi akan ketemu penghuni macam taman Jurassic ini. Hehehe…

kapal Pada Elo, kapal yang andalan kami selama berlayar. Panjangnya sekitar 25 meter.
Rama, seorang ranger yang berasal dari Bandung menyambut ramah kami. Ia adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung yang sedang magang di Taman Nasional Komodo. Lah, jauh-jauh kesini ketemunya orang Bandung lagi.., dan ga hanya Rama, ada beberapa barudak Bandung juga yang sedang magang di TN. Komodo.
Ranger sebenarnya adalah polisi hutan yang bertugas menjaga Taman Nasional Komodo. Senjatanya sederhana, cuma kayu bercabang yang disebut magic stick. Whew, komodo paling takut sama magic stick. Kini ranger dikenal juga sebagai guide yang menemani pengunjung berkeliling pulau. Guide bukan sekedar guide, tapi juga menjaga pengunjung jika ada bahaya serangan Komodo dan binatang liar lainnya yang tak terduga.
Cerita tentang komodo itu ngeri lho, tentang air liurnya yang mengandung bakteri mematikan. Kalo ada binatang yang kena gigit komodo, komodo ga perlu langsung melawan mangsanya hingga mampus. Tapi cukup dibiarkan beberapa saat, nanti juga tumbang sendiri. Baru disantap bersama kawan-kawan satu geng. Dan karena indra penciuman komodo yang sangat sensitive, komodo dapat mencium bau darah dari jarak berkilo-kilometer. So, waspadalah bagi yang haid dan bisulan akut saat berkunjung kemari. Itulah dahsyatnya formula liur komodo. Mereka punya tagline: digigit, dijilat, dicelupin.., -,-/
Tapi saya kok ga terlalu takut ya sama komodo, sampe sekarang lebih takut sama biawak. Hm.. kecuali kalo di selokan atau sungai-sungai pinggir sawah ada komodo mungkin saya takut. Nahh.., Soalnya komodo ada rangernya, biawak ga ada rangernya. Simpel.
Saat perjalanan dari dermaga menuju basecamp Loh Buaya, kita melewati jalan tanah yang sedikit berbatu. Tampak ada lahan kosong yang hanya tumbuh tanaman kering dan bakau. Ada juga sepetak kebun bakau yang didepannya ditancapkan plang nama donatur dan asal negaranya. Tempat ini mengingatkan saya pada pedalaman Afrika. Belum pernah ke Afrika sih, tapi kan Afrika ada di Google.

mirip Afrika kan…
Tiba-tiba seorang ranger berteriak, ada komodo! Semuanya langsung heboh berjalan –pikirin deh heboh berjalan kaya apa- menuju kearah yang ditunjukin ranger. Jelas kami super interest, karena ini komodo pertama yang akan kami lihat sejak membuka mata hari ini. Benar saja, ternyata disana ada komodo sedang berjemur. Iya juga sih, berjemur pagi hari kan bagus buat tulang. Komodo tersebut tengkurap dengan tenang sekan sudah biasa jadi pusat perhatian. Jadi primadona. Dipotret dari berbagai arah diapun cuek saja. Sebenernya kalau mata tidak jeli, mana keliatan komodo ini. Warnanya hampir sukses menyatu dengan tanah dan bekas gundukan ranting kayu. Basecamp sudah dekat, perjalanan kembali dilanjutkan.

Komodo yang pertama kita lihat hari itu.
Saat itu kita bertemu lagi dengan seekor komodo yang berbadan lebih besar dan lebih gagah. Sepertinya ini komodo jantan. Keliatan dari ototnya, fitness.
Di basecamp, barulah kita dijelaskan lebih detail oleh ranger tentang perjalanan menyusuri track medium di pulau Rinca. Mulai dari aturan, sikap dan tindakan selama tracking, tak lupa jalur yang dilewati berikut jarak dan waktu tempuhnya. Disana juga ada tengkorak kerbau, kera, kambing, dan kerangka binatang hasil santapan komodo. Ada satu hal penting, jangan membawa benda yang dapat menarik perhatian komodo saat treking. Biasanya benda tersebut yang digantung semisal tas kresek, tas jinjing, dan kamera (dipegang aja). Makanya lelaki wajib pake celana kalau trekking di TN Komodo, biar ga menarik perhatian komodo. Dicaplok baru berase.
Kita juga ga dijanjiin untuk sering bertemu komodo. Ini kan Taman Nasional, hutan. Bukan kebun binatang yang semuanya sudah disetting rapi. Jika beruntung, ya bertemu. Tapi jangan kuatir, di sekitar dapur basecamp paling nggak ada belasan komodo malas yang selalu menunggu makanan sisa-sisa dari dapur. Hehehe…
tersambung…
“Komodonya Rinca”
Rupanya saat pagi adalah saat yang berbahagia bagi seluruh kawanan hewan sisa jaman purbakala itu. Entah apa setiap hari seperti ini mungkin. Pagi ini kami bertemu banyak komodo dengan berbagai ukuran seliweran. Melakukan beragam aktifitas dimana hanya mereka yang tau sedang apa, mau kemana, mau ngapain, bersama siapa.
Yang tampak dimata sih pagi hari komodo melakukan banyak hal. Yang paling pokok berjemur, mencari makan, jalan-jalan, bahkan berantem. Dijelaskan oleh ranger, komodo aktif pada pagi hari. Siang hari saat panas biasanya komodo beristirahat di bawah rindangnya pohon.
Pagi itu kita trekking menulusuri sebagian kecil wilayah pulau Rinca. Daerah Loh Buaya tepatnya. Sebelum tiba di basecamp kami bertemu 2 komodo, di basecamp dan dapur kami juga bertemu belasan komodo mulai yang kecil besar hingga yang sudah cacat karena berkelahi, dan saat trekking setidaknya ada sekitar 5 komodo yang bisa dilihat.
Beberapa jalan setapak yang biasa dilalui pengunjung harus dialihkan karena jalan tersebut melewati atau mendekati tempat bertelur komodo. Jadi agar tidak mengganggu dan merusak, kita harus berputar diluar batas sarang yang telah ditentukan oleh ranger.
Ada yang menarik, suatu waktu perjalanan kami dibuat sedikit melambat karena didepan kami ada komodo yang juga berjalan di jalan setapak yang biasa orang lewati. Komodo tersebut santai berjalan seolah tidak terganggu oleh kehadiran kita yang membuntuti di belakangnya. Saat itu jaraknya tidak jauh, berkisar antara 5-10 meter saja di belakang komodo. Ini pengalaman yang unik menurut saya.

mengekor dibelakang komodo
Setelah beberapa menit membuntuti komodo tadi, akhirnya ia berbelok keluar jalur. Tapi kita ga ikutan.. kalo kita ngikut terus keterusan sampe kedalam istana kerajaan komodo gimana? Terus kita ditawan ga ada yang mau tebus, jadilah santap malam yang lezat kita, rakyat komodo pesta pora… OOT abisss…
Walaupun komodo tersebut tampak tenang, tapi bukan berarti kita jadi lengah. Ranger selalu mengingatkan kami untuk selalu waspada, liat kanan kiri, jaga jarak sama komodo yang di depan. Awas ekornya keinjek. Saat komodo berbelok keluar jalur aja kita musti diem. Kita mah nurut aja, namanya tamu ga boleh ngusik tuan penguasa tanah dong ya. Setelah dirasa jarak aman, perjalanan kita lanjutkan. Tapi tak beberapa lama,
Ranger memberitau kami, “Liat itu, induk komodo sedang jaga telurnya.” Mata kita kan mata yang biasa liat gedung, disuruh liat komodo diantara lebatnya hutan aja susahnya kayak tes toefl. Setelah dilihat dan diterawang, satu persatu dari kami mulai melihat sesosok ibu komodo tersebut. Dan justru ketegangan dimulai disini.
Komodo yang berjalan di depan kami tadi rupanya salah belok. Ia berjalan mendekati tempat telur komodo disimpan. Induk komodo yang sedang menjaga telur tidak terima sarangnya didekati. Karena merasa terancam induk komodo tersebut sempat bersitegang. Keduanya sudah sama-sama siapin jurus. Dua orang ranger yang
mengawal kami mukanya ikut berubah tegang. Mereka langsung pasang posisi didepan kami dan menginstruksikan kami untuk tetap tenang. Tapi bagaimana kita bisa tenang kalo rangernya pun tampak cemas. Kata mereka komodo kalau sudah berkelahi tak peduli apapun. Bisa lebih membabibuta daripada babi asli sendiri. Ya, wajar kalo mereka juga tampak tegang. Hmm.. tampak lebih serius tepatnya.

daripada pagi-pagi udah ribut, mending kabooor…
Untung kejadian tadi ga berlarut-larut. Komodo yang salah masuk area tadipun mengalah dan pergi meninggalkan sarang komodo. Tegang sih sempat. Sebenernya jarak kita antara komodo tidak dekat tidak jauh. Sekitar 30 meter mungkin. Tapi ya itu sudah. Ngeri.
Pagi hari diisi dengan berjalan kaki adalah hal yang sangat menyenangkan. Trekking menyusuri hutan di Rinca. Anggap saja olahraga jalan santai. Tapi ini beda, udaranya sangat fresh dan segar. ( x_x ) bebas dari segala macam polusi. Bau tanah dan tumbuhan yang kamu tau sendiri kan seperti apa? Sangat khas. Tanah tampak agak basah sisa hujan lebat kemarin sore. Menambah suasana segar saat berjalan kaki. Tampak juga jejak banteng (kerbau sih :D) masih terlihat jelas memotong jalan setapak. Saya berkesimpulan si banteng ini pasti belum lama lewat sini. Kakinya besar juga, hampir sama seperti besar kaki manusia. Kebayang pasti bantengnya berat dan besar.
Setelah beberapa saat melewati hutan, sederetan kami mulai naik keatas bukit. Pemandangan dari atas bukit juga luar biasa indahnya. Cuma satu yang ga tahan, panasnya. Kata para ranger, oktober adalah puncaknya musim panas sebelum masuk musim hujan. Terasa sekali saat lewat hutan terasa sejuk, saat melewati bukit terasa panas sampe ke akar rambut.
Setelah melewati bukit tak ada lagi saya melihat komodo. Mungkin sudah waktunya mereka istirahat mengingat hari mulai beranjak siang. Hingga tiba kembali di basecamp, barulah saya berjumpa kawanan komodo ‘rumahan’ lagi. Masih stay tune di bawah dapur.
Kami berdiri sangat dekat dengan belasan komodo. Saya rasa komodo yang berada di sekitaran basecamp sudah ga perlu berburu lagi karena makanan sudah cukup. Tapi sayang mereka jadi ketergantungan dan malas berburu. Positifnya, komodo yang kekenyangan lebih tidak agresif. Sama seperti manusia lah, kalo manusia laper atau kurang duit pasti bawaannya galak.

menunggu makanan dibawah dapur..
Ada satu komodo yang terlihat lebih kurus. Kata ranger komodo tersebut sudah cacat karena kalah berkelahi. 2 kaki depannya sudah lumpuh. Beberapa hari belakangan nafsu makannya berkurang. Tak heran semakin hari semakin kurus.
Komodo adalah binatang kanibal. Mungkin saja saat si cacat mati, ia akan dimangsa oleh komodo-komodo lainnya. mungkin ada yang berpikir kenapa tidak diobati saja? Di Taman Nasional Komodo kehidupan komodo dibiarkan alami. Kalau sudah saatnya mati karena tak mampu bersaing ya mati saja, itu sudah bagian dari keseimbangan alam. Toh jumlah komodo di Taman Nasional Komodo jumlahnya tetap stabil karena habitatnya yang seimbang. Justru kalau ada dokter komodo, jumlah komodo bisa membengkak sehingga ekosistem justru jadi tak seimbang.
tersambung…
“Pulau Komodo”
Saya pernah googling Tobelo, terbayang betapa mengerikannya pada tahun 2000 saat kerusuhan terjadi di kota kecil ini. Mengerikan sekali. Namun kini sudah banyak perubahan positif. Kota kecil ini mulai kondusif dan menggeliat. Sudah tidak ingat lagi apa itu kerusuhan.
Bermain-main ke pelabuhan Tobelo sangat menarik. Berjumpa orang-orang di pelabuhan yang gaya bicaranya keras namun hatinya tulus. Pelabuhan yang ramai saat pagi hingga sore ini menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang akan berangkat dengan kapal menuju Manado, Morotai, dan tempat-tempat lainnya.

Suasana di pelabuhan Tobelo juga menarik untuk diperhatikan. Masih ada kapal kayu pengangkut pala, kopra, beras dan bahan pokok lainnya bongkar muat disini. Kuli pelabuhan dengan ototnya yang kekar dengan entengnya memindahkan karung-karung kopra dari kapal ke dalam truk.
Gudang kopra tua di pinggir jalan pelabuhan milik orang Filipina juga masih sibuk memasukkan stok kopra yang diangkut dengan truk . Truk tersebut datang dari arah pelabuhan.

Di pinggir jalan pelabuhan banyak terdapat warung kaki lima. Mulai dari penjual minuman ringan, rokok, hingga nasi jaha. Namun warung-warung ini tidak akan bertahan lama di pinggir jalan pelabuhan Tobelo karena sebentar lagi pelabuhan tersebut akan diperbesar dan jalan menuju ke pelabuhan akan dilebarkan.
Satu hal yang membuat saya terkejut, angkutan umum disini ‘terlalu’ beragam. Disini saya menyaksikan sendiri Kijang Innova dijadikan angkutan umum. Mobil kecil berpenumpang 4 seperti Yaris dan Jazz juga ada yang dijadikan angkutan umum, dengan plat berwarna kuning tentunya. Ough…

Kehidupan di sekitar pelabuhan Tobelo memang unik. Walaupun di sekitar pelabuhan banyak bangunan tua, tapi tingkah laku dan pola hidup masyarakat disana yang membuat hitam putih kota tua pelabuhan menjadi berwarna.